iseng semalem bikin cerpen, happy reading :)
When I Try To Forget
You
Aku selalu berusaha untuk
melupakanmu, melupakan semuanya tentang kita tetapi yang terjadi ketika aku
berusaha untuk melupakanmu otakku bekerja diluar perintah,
otakku selalu memikirkanmu dan entah bagaimana aku harus melupakannya. Ada
banyak cerita yang aku tulis ketika kita saling jatuh cinta dan saling melengkapi
satu sama lain tetapi aku mencoba untuk membuangnya setelah kau memilih gadis
lain dan pergi meninggalkanku. Dan Keputusanmu meninggalkanku sedikit membuat
hatiku hancur hingga saat ini.
***
Sekarang aku disini di bagian
tertinggi di bukit ini dibawah pohon rindang dengan pemandangan yang
menakjubkan di hiasi langit sore yang indah. aku suka tempat ini, disini aku
berusaha untuk melupakanmu...tunggu, mungkin tempat aku mengingatmu. Bukankah aku
sudah menjelaskannya.
Ada suara langkah kaki dari
belakangku, dan firasatku mengatakan ada seseorang yang berjalan ke arah sini,
aku memutar posisiku memastikan kebenarannya. Aku sedikit terkejut melihat
seorang pria tinggi dengan kemeja birunya berdiri dihadapanku. Sepertinya bukan
aku saja yang terkejut, dia juga terkejut melihatku mengingat bukit ini sulit
di akses. Ini tempat rahasiaku dan sekarang laki-laki itu mengetahuinya.
“ Kau sendirian ? “ dia terlihat
sedikit bingung dan menyatukan alisnya yang hitam itu.
Aku tidak memperdulikan
pertanyaan bodoh itu, aku memutar tubuhku mengembalikan ke posisi semula
melihat dan menikmati pemandangan didepanku.
Dia mendekat ke arahku, kini
posisi kami sejajar hanya saja dia berdiri dengan gagahnya. Kami saling
bertatapan untuk sepersekian detik sebelum aku memalingkan wajahku. Aku memang
tidak terlalu suka berbicara atau bertatapan dengan orang lain setelah kau
pergi.
Dia duduk disebelahku, kami
saling terdiam. Aku tak pernah melihat dia
sebelumnya. aku melihat ke arahnya,disaat yang bersamaan angin sore
berhembus memainkan rambut hitamnya dengan manja.. Baiklah, dia terlihat
tampan.
“ Dimana teman-temanmu ? ” Dia
berusaha mencairkan suasana dan mengedarkan penglihatannya seperti mencari
sesuatu.
“ Aku tak punya teman, aku lebih
suka sendirian ” Hanya itu yang bisa aku keluarkan dari mulutku.
“ Kau anti sosial ? maksudku....”
Dia terlihat berpikir keras dan hanya itu yang dapat dia simpulkan dari
jawabanku.
“ I’m not anti social, I’m anti
bulshit ! “ aku menaikan nada suaraku dan menatapnya marah.
Mata cokelatnya menatapku ramah
kemudian tersenyum membalas tatapan
marahku dan harus ku akui itu adalah senyum termanis yang pernah kulihat. Aku
segera memalingkan wajahku untuk kedua kalinya sebelum aku benar-benar terjatuh
kedalamnya.
Aku memang tidak mengenalnya
bahkan ini pertemuan pertama kami, aku berusaha untuk tidak memperdulikan
keberadaanya disampingku tetapi dia selalu menarik perhatianku. Rasanya sudah
lama sekali aku tidak merasa seperti ini. Tapi mana mungkin aku menyukai orang
yang bahkan belum aku kenal. Hei..apa yang baru saja aku katakan, aku tidak
menyukainya , dia menyebalkan dan berusaha menggangguku sore ini.
“ Ini untukmu “ Dia memberikan
sebuah buku kecil berwarna biru.
“ Untuk apa ? “ Tanyaku
penasaran. Tentu saja, untuk apa dia memberikan buku kecil itu bahkan kami
belum berkenalan.
“ Kau membutuhkan ini, tulislah semuanya
disini “ Dia berusaha menawarkan buku kecilnya.
“ Apa yang harus aku tulis ?”
Tanyaku semakin tak mengerti.
“ Semua masalahmu, apa lagi ? kau
gadis dengan banyak masalah, benarkan ? “ Dia terkekeh seolah mengejekku.
“ Kau cocok menjadi peramal
dengan bakat alamimu yang sok tahu itu ! “ jawabku kesal, dia memang benar aku
gadis yang penuh masalah dan mengambil kasar buku kecil biru itu dari tangan
kanannya dengan cepat , belum sempat aku mengambil buku itu tangan kirinya mebuat gerakan refleks menahan tanganku dan akhirnya
tanpa sengaja kami saling bertatapan.
“ Aku Reza aditya renaldi “ Dia
tersenyum dan membebaskan tanganku.
“ Silvi oktaviani “ Entah kenapa
aku menyebutkan namaku, tidak mungkin aku dalam pengaruh hipnotis, atau memang
senyumnya yang membuatku terhipnotis.
Aku menatapnya tak percaya,
matanya yang cokelat dan senyumnya yang indah sore ini adalah keajaiban. Aku
memang tidak mungkin melupakanmu tapi laki-laki disampingku ini sedikit
membuatku lupa untuk terus menunggumu.
“ Hari semakin sore, mau ku antar
pulang ? “ dia berdiri dan tanpa
menunggu jawabanku dia menarik tanganku untuk
menuruni bukit ini. Aku hanya
tersenyum ketika meninggalkan tempat ini.

