Kamis, 30 Januari 2014

CERPEN



iseng semalem bikin cerpen, happy reading :) 

When I Try To Forget You

Aku selalu berusaha untuk melupakanmu, melupakan semuanya tentang kita tetapi yang terjadi ketika aku berusaha  untuk  melupakanmu otakku bekerja diluar perintah, otakku selalu memikirkanmu dan entah bagaimana aku harus melupakannya. Ada banyak cerita yang aku tulis ketika kita saling jatuh cinta dan saling melengkapi satu sama lain tetapi aku mencoba untuk membuangnya setelah kau memilih gadis lain dan pergi meninggalkanku. Dan Keputusanmu meninggalkanku sedikit membuat hatiku hancur hingga saat ini.

***

Sekarang aku disini di bagian tertinggi di bukit ini dibawah pohon rindang dengan pemandangan yang menakjubkan di hiasi langit sore yang indah. aku suka tempat ini, disini aku berusaha untuk melupakanmu...tunggu, mungkin tempat aku mengingatmu. Bukankah aku sudah menjelaskannya.

Ada suara langkah kaki dari belakangku, dan firasatku mengatakan ada seseorang yang berjalan ke arah sini, aku memutar posisiku memastikan kebenarannya. Aku sedikit terkejut melihat seorang pria tinggi dengan kemeja birunya berdiri dihadapanku. Sepertinya bukan aku saja yang terkejut, dia juga terkejut melihatku mengingat bukit ini sulit di akses. Ini tempat rahasiaku dan sekarang laki-laki itu mengetahuinya.

“ Kau sendirian ? “ dia terlihat sedikit bingung dan menyatukan alisnya yang hitam itu.
Aku tidak memperdulikan pertanyaan bodoh itu, aku memutar tubuhku mengembalikan ke posisi semula melihat dan menikmati pemandangan didepanku.
Dia mendekat ke arahku, kini posisi kami sejajar hanya saja dia berdiri dengan gagahnya. Kami saling bertatapan untuk sepersekian detik sebelum aku memalingkan wajahku. Aku memang tidak terlalu suka berbicara atau bertatapan dengan orang lain setelah kau pergi.

Dia duduk disebelahku, kami saling terdiam. Aku tak pernah melihat dia  sebelumnya. aku melihat ke arahnya,disaat yang bersamaan angin sore berhembus memainkan rambut hitamnya dengan manja.. Baiklah, dia terlihat tampan.

“ Dimana teman-temanmu ? ” Dia berusaha mencairkan suasana dan mengedarkan penglihatannya seperti mencari sesuatu.

“ Aku tak punya teman, aku lebih suka sendirian ” Hanya itu yang bisa aku keluarkan dari mulutku.
“ Kau anti sosial ? maksudku....” Dia terlihat berpikir keras dan hanya itu yang dapat dia simpulkan dari jawabanku.
“ I’m not anti social, I’m anti bulshit ! “ aku menaikan nada suaraku dan menatapnya marah.
Mata cokelatnya menatapku ramah kemudian  tersenyum membalas tatapan marahku dan harus ku akui itu adalah senyum termanis yang pernah kulihat. Aku segera memalingkan wajahku untuk kedua kalinya sebelum aku benar-benar terjatuh kedalamnya.

Aku memang tidak mengenalnya bahkan ini pertemuan pertama kami, aku berusaha untuk tidak memperdulikan keberadaanya disampingku tetapi dia selalu menarik perhatianku. Rasanya sudah lama sekali aku tidak merasa seperti ini. Tapi mana mungkin aku menyukai orang yang bahkan belum aku kenal. Hei..apa yang baru saja aku katakan, aku tidak menyukainya , dia menyebalkan dan berusaha menggangguku sore ini.

“ Ini untukmu “ Dia memberikan sebuah buku kecil berwarna biru.
“ Untuk apa ? “ Tanyaku penasaran. Tentu saja, untuk apa dia memberikan buku kecil itu bahkan kami belum berkenalan.
“ Kau membutuhkan ini, tulislah semuanya disini “ Dia berusaha menawarkan buku kecilnya.
“ Apa yang harus aku tulis ?” Tanyaku semakin tak mengerti.
“ Semua masalahmu, apa lagi ? kau gadis dengan banyak masalah, benarkan ? “ Dia terkekeh seolah mengejekku.
“ Kau cocok menjadi peramal dengan bakat alamimu yang sok tahu itu ! “ jawabku kesal, dia memang benar aku gadis yang penuh masalah dan mengambil kasar buku kecil biru itu dari tangan kanannya dengan cepat , belum sempat aku mengambil buku itu  tangan kirinya mebuat  gerakan refleks menahan tanganku dan akhirnya  tanpa sengaja kami saling bertatapan.
“ Aku Reza aditya renaldi “ Dia tersenyum dan membebaskan tanganku.
“ Silvi oktaviani “ Entah kenapa aku menyebutkan namaku, tidak mungkin aku dalam pengaruh hipnotis, atau memang senyumnya yang membuatku terhipnotis.

Aku menatapnya tak percaya, matanya yang cokelat dan senyumnya yang indah sore ini adalah keajaiban. Aku memang tidak mungkin melupakanmu tapi laki-laki disampingku ini sedikit membuatku lupa untuk terus menunggumu.
“ Hari semakin sore, mau ku antar pulang ? “ dia berdiri dan  tanpa menunggu jawabanku dia menarik tanganku untuk  menuruni  bukit ini. Aku hanya tersenyum ketika meninggalkan tempat ini.
 

catatan sehari-hari Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template